The Engeneering of Civilization

Pendahuluan.
Islam selama ini masih banyak kita anggap sebagai agama yang mengajarkan tentang budi pekerti & ajaran yang dianggap paling luhur, hal ini terlihat jelas dalam kehidupan di masyarakat, bahwa aturan Islam hanya dilaksanakan jika aktifitas ritual dan ibadah lainnya telah dilaksanakan dengan sempurna. Pandangan masyarakat yang masih sempit ini masih terlihat jelas dalam kehidupan ini.
Melihat kenyataan seperti ini maka perlu adanya sebuah upaya untuk merubah kehidupan masyarakat yang masih sempit dalam memandang bahwa Islam adalah ajaran yang mengatur aktifitas ritual saja.
Sebagaimana telah menjadi pandangan hidup atau pemikiran umum, bahwa sebuah ajaran agama akan sempurna jika dilaksanakan dengan sempurna. Cara pandang seperti ini menjadi pendorong bahwa semuanya akan terselesaikan. Untuk itu perlu adanya upaya yang lebih radikal lagi dan lebih menghujam lagi bahwa ada upaya membangun atau mencerahkan tentang pemahaman tersebut.

Islam Merupakan Ideologi
Islam adalah sebuah peradaban (hadharah) yang paling mulia,paling agung,paling dasyat,paling kuat pokoknya paling segala-galanya di muka bumi ini.Peradaban Islam adalah hal yang nyata dan telah terbukti begitu luhurnya dan sangat mulia jika peradaban ini telah tegak kembali di muka bumi ini. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, bahwa pemahaman Islam yang masih sempit yaitu bahwa Islam hanya mengatur soal aktifitas ritual dan ajaran budi pekerti, maka disini perlu dijabarkan dan disampaikan bahwa pemahaman tersebut perlu diperluas, bahwa Islam adalah sebuah aturan yang menyeluruh bagi seluruh kebaikan manusia di muka bumi ini. Islam adalah sebuah ideologi (Mabda), yang mana merupakan ‘aqidah aqliyah yanbatiqu’anha an nizham. Yang artinya aqidah aqliyah yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan, yang artinya sesuatu disebut ideologi bila memiliki dua (2) syarat, yaitu memiliki aqidah aqliyah sebagai fikrah (ide) dan memiliki sistem (aturan) sebagai thariqah (metode penerapan)
Dalam kitab Nidham Al Islam karya Taqiyuddin An Nabhani bahwa aqidah merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan dunia,kehidupan sebelum dunia,setelah dunia dan bagaimana hubungan antara dunia dengan kehidupan sesudah dunia (akherat).Sedangkan sistem aturan ialah mencakup berbagai pemecahan terhadap berbagai problema kehidupan baik pribadi, keluarga, maupun negara; menyangkut persoalan ibadah,ahlak,sosial,politik,ekonomi dan budaya)
Dengan demikian, aqidah aqliyah dan bagaimana cara pemecahan problem manusia tersebut dengan ide(fikrah).Sedangkan tentang bagaimana penerapan berbagai pemecahan tersebut, bagaimana pemeliharaan ide (fikrah), dan cara untuk menyebarkan ide (fikrah) tersebut disebut thariqah (metode operasional untuk menerapkan aqidah tersebut)
Dengan demikian suatu ideologi bukan hanya bersifat ide-ide teoritis tanpa adanya realitas pelaksanaannya (seperti filsafat) namun mesti ada metode (cara opersional) yang jelas tentang bagaimana penerapannya dalam masyarakat.
Dari uraian tersebut nampak bahwa Islam mempunyai keunikan sendiri dibandingkan dengan agama-agama lain di dunia ini, Ideologi Islam dapat meresapi ke sebuah peradaban yang agung, hal ini dapat kita pahami, bangunan peradaban bukanlah struktur fisik.Peradaban (hadharah) dibangun oleh pemikiran, pandangan hidup suatu masyarakat, yang tercermin dalam cara pandang mereka terhadap segala sesuatu.Cara pandang ini berakar dari ilmu pengetahuan, khususnya tentang manusia dan alam semesta. Oleh karena itu pandangan hidup juga menentukan sikap sseorang terhadap dirinya (anfus) dan terhadap alam semesta (afaq).
Maka dari itu membangun peradaban sejatinya adalah membentuk manusia –manusia yang berilmu pengetahuan atau manusia beradab.Karena itu, asumsi dasar bahwa manusia adalah mahluk beradab harus lebih diutamakan ketimbang hanya manusia sebagai mahluk sosial, karena ia lebih inklusif.Sebaliknya,manusia beradab akan terbentuk oleh peradaban.Sebab secara fisik, manusia bukan hanya lahir dimuka bumi, tapi lahir ditengah agama,kepercayaan,nilai dan kultur yang menguasai masyarakat.

Menyebarluaskan Ide Pemahaman Ideologi Islam
Sekarang sudah ada gambaran bahwa Islam sebagai ideologi merupakan peradaban, maka untuk lebih memfokuskan problematika yang sedang terjadi tentang keberadaan peradaban Islam saat ini, maka perlu penelusuran , bahwa kondisi umat Islam saat ini (secara fakta) belum mempunyai peradaban sendiri. Hal yang perlu kita ketahui bahwa peradaban sekarang dikuasai oleh ideologi selain Islam yaitu ideologi kapitalisme yang nota bene adalah negeri –negeri penganut agama selain Islam (Yahudi dan Kristen).
Ideologi kapitalisme ini merupakan ideologi yang menguasai peradaban saat ini, ideologi kapitalisme adalah ideologi yang dibangun atas pemahaman liberalisme yang menurunkan berbagai ide-ide sesat seperti westernisasi, demokrasi, sekulerisasi, pluralisme,relativisme dan lainnya. Ideologi kapitalisme ini sudah tentu sangat berimplikasi pada peminggiran (marginalisasi) peradaban Islam.
Jawaban bagi problematika saat ini, yaitu masih dikuasainya dunia ini oleh peradaban dari ideologi kapitalisme, maka jalan untuk menegakkan kembali peradaban Islam adalah membangun kembali pemahaman Islam secara benar ke masyarakat, baik melalui ilmu pengetahuan, pemikiran dan dakwah secara benar seperti apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW..
Dakwah Islam
Ideolgi (Mabda) Islam adalah fikrah dan thariqah yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari fikrah tersebut. Peraturan Islam lahir dari aqidah, sedangkan peradabannya memiliki model dan ciri yang unik dalam kehidupan.Metode Islam dalam pengembangan dakwah adalah diterapkannya Islam oleh negara dan diemban sebagai qiyadah fikriyah ke seluruh dunia. Metode ini harus dijadikan azas untuk memahami dan menerapkan peraturan.Penerapan Islam oleh jamaah kaum muslimin yang hidup dalam pemerintahan yang menerapkan hukum Islam, adalah termasuk upaya-upaya menyebarluaskan dakwah Islam. Karena penerapan peraturan Islam ditengah-tengah masyarakat non muslim tergolong metode dakwah yang bersifat praktis. Penerapan peraturan Islam telah berhasil memberikan pengaruh gemilang dalam mewujudkan dunia Islam yang wilayahnya sangat luas.
Sekarang kembali pada kita sebagai umat muslim (Islam), bahwa perjuangan terus berlanjut sampai titik darah penghabisan, tdk ada kata berhenti dalam berdakwah, selama kita masih hidup, terus belajar dan berjuang hingga mafahim kita terus berkembang dan semakin meningkat hingga kita semakin paham dan semakin bersemangat untuk terus berjuang menegakkan kembali peradaban Islam yaitu Daullah Khilafah Islamiyah, sebagaimana telah dijanjikan oleh Rasullah dan telah ditetapkan dalam hadist.

The End of History is Islam

Setelah berahirnya perang dingin (cold war) di Abad ke-20, keluarlahAmerika dan sekutunya (barat) sebagai pemenang dan pengendalitunggal dunia dengan duduk diatas puncak ‘kekuasaan Barat’ AmerikaSerikat sebagai the only one soperpower in the world.
Sejak itu para pemikir Barat maupun non-Barat sibuk mencari Hipotesadan ramalan bagaimana kelanjutan dari episode sejarah perjalananumat manusia. Apakah ada episode baru, dalam arti ada peradabanlain yang akan menggantikan posisi komunis sebagi musuh Barat?Ataukah ini merupakan ahir dari episode perjalanan sejarah umatmanusia di dunia? dalam arti Barat sebagi peradaban yang akanmemimpin umat manusia hingga ahir zaman..
Adalah Prancis Fukuyama salah seorang ilmuan yang berpengaruh diBarat melontarkan pemikirannya dalam artikelnya di jurnal Interest1989 yang berjudul “The End of History?” Ia mengatakanbahwa “Setelah Barat melakukan rival idiologinya monarki herediter,fasisme dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsensus yang luarbiasa terhadap Demoktrasi Liberal”. Ia berpendapat bahawa “DemokrasiLiberal adalah semacam titik ahir dari sebuah evolusi ideologi ataubentuk final dari bentuk pemerintahan”. Dalam hal ini Fukuyamasepertinya mamaksakan bangsa-bangsa non-Barat untuk mengikuti jejaklangkah barat dan menagdopsi Demokrasi Leberal sebagai ideologinegara, barang siapa menolak, maka ia akan terseret dengansendirinya oleh derasnya arus gelombang globalisasi.
Tesis Fukuyama ini banyak menuai kritik pedas dari para pemikirbarat maupun non Barat yang didasarkan pada 1) Adanya dua kubu Peradaban barat yang keduanya ingin menjadi super power in the word, Amerika dan Eropa. Salah satu insiden yang menimbulkan gep diantara mereka adalah invasi ASatas Irak. Sehingga Thomas L. Friedman dan Jonh Bilt (PM Swedia)bertanya It is the end of the west? Begitu juga dengan Charlest A.Kupchan, ia mengatakan “The nex clash of civilization will not bebetween the west and the rest but between the U.S. and Europe__andAmericans remain largly oblivius. 2) Adanya peradaban lain yang akan menjadi cabaran(tantangan) bagi Peradaban Barat sebagimana yang di ramalakanBernad Lewis dan Samuel P. Huntington dengan teori terkenalnya “Clash of Clasivilitation”

Antara Islam dan Barat
Berbeda dengan Fukuyama , Bernad Lewis melalui artikelnya yangberjudul “The Roots of Muslim Rag” membuat suatu paradigma bahwasetelah berahirnya perang dingin, Barat membutuhkan new enemy(musuh baru) yang akan menggantikan posisi komunis sebagai musuhnyadi Perang Dingin. Kemudian tentang siapa musuh barunya itu iamembahasnya dalam buku populernya “Islam and the West”. Sehinggadari sanalah muncul__apa yang ia istilahkannya dengan__benturan peradaban (clash of civilization).
Gagasan Lewis ini di ta’kid lagi oleh muridnya Huntington didalambukunya “The Clash of Civization and The Remaking and World Order”.Ia menuliskan bahwa Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernahmembuat Barat tidak merasa aman.Kemudian dia meneruskan pemikirannya ini dalam bukunya “Who Are We?”Disini Ia lebih jelas lagi memvonis Islam sebagai musuh Barat menggantikanposisi komunis pasca perang dingin. Bahkan Petrick J. Buchanan dalamartikelnya “Is Islam an Enemy the United States ?” Ia menulis ” Bagisebagian orang Amerika yang mencari musuh baru untuk uji cobakekuasaan setelah runtuhnya komunis, Islam adalah pilihannya.
fenomena mutahir seperti Serangn 11 September 2003, invasi AS atasAfganistan, Irak dan Somalia, Dukunan AS atas Israel, Tekanan AS atas Iran, insidenc karikatur NabiMuhammad SAW, seolah-olah membenarkan rumusan Lewis dan muridnyaHuntington tentang benturan (clash) peradaban. Kita juga memperhatikan bagaimana semangatnya Presiden Iran Ahmadinejad menenteng AS dan Barat, hingga beliau mengunjungi negara-negara berhaluan kiri (Venezuela dan Nikaragua)untuk membebaskan negara-negara dari cebgkraman AS. Begitu juga dengan Ali Khamenei mengunjungi Raja Arab saudi mengusulkan kerjasama strategis untuk mengatasi problematika dunia Islam dan berupaya semaksimal mungkin untuk menyatukan Umat Islam. Ini juga menunjukan bahwa benturan peradaban akan terjadi.
Bernad Lewis dan Huntington adalah ilmuan Barat yang sangatkonfrontioinis terhadap Islam, merekalah yang sebenarnyamengompori panasnya hubungan Barat dan Islam. Berbagai mitologi dandemonologi terus dikembangkan seperti Islamic Threat (ancamanIslam), Islamic Peril (bahaya Islam), Kerajaan setan, Islamic Bom”dan lain sebagainya. Bahkan pikiran kotor yang mereka lontarkan danparadigma jahat yang mereka buat seakan-akan menabuh gendangpeperangan antara Barat dan Islam.

Islam is Never Die
Prancis Fukuyama, Bernad Lewis, Samuel P. Huntington dan parapemikir barat lainnya yang paranoid terhadap Islam harus menengokkembali sejarah perjalanan umat manusia bahwa setiap peradabanmemiliki batas waktunya dan setiap umat memiliki umurnya, dandidalam hidup ini berlaku hukum alam (sunatullah) yang tidak dapatdihindari, dielakan dan dirubah oleh akal dan tangan manusia,termasuk siklus kejayaan dan kehancuran suatu peradaban manusia, iaadalah sunatullah.Arnold Toynbee sorang sejarawan Barat mengatakan bahwa di bumi initelah ada sekitar 21 peradaban umat manusia yang jatuh dan silihberganti
Islam is The End of History
Kalo Fukuyama mengatakan bahwa the end of history adalah PeradabanBarat, maka penulis sendiri lebih yakin bahwa the end of historyadalah Peradaban Islam. Darimana kita tau itu, sedangkan Islam sendiri__di abad modern ini__ belum memberikan karyanya yang khas yang menunjukan bahwa Islam akan bangkit dan menjadi ahir bagi sejarah peradaban umat manusia. Tapi setidaknya ada tiga alasan yang penulis jadikan sebagai sandaran: Pertama, Pesan Robbani: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kamipergilirkan di antara manusia ” (Qs.3 : 140). Sepanjang sejarah,telah banyak yang berkuasa dan tidak satupun yang kekal. Sekarang,Dimana Peradaban Romawi? Tak ada bekasnya selain bangunan-bangunankuno dan arsitek-arsitek material. Dimana Peradaban Yunani? musnah,tak mewariskan apapun selai Filsafat nonesensial dan budayapaganisme. Dimana Peradaban Persia ? mati, Tak meninggalkan apa-apaselain cerita-cerita kuno. Dimana superpower Uni Soiet danidiologi komunisnya? runtuh dan luluh tak ada daya melawan kekuatanBarat. Semuanya mati dan hancur kecuali satu, umat Islam.“Dan telah kami jadikan kamu (umat Islam) ebagi umatan wasathan(umat adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas umatmanusia “(Qs. Al Baqoroh:183 ) Jadi karakteristik umat ini adalahsebagai saksi atas umat manusia seluruhnya, saksi atas umat gobiroh(terdahulu) sebagiman tersurat dalm Al Quran dan saksi atas uamatmutahir sebagaiman kita saksikan dan kita alami sekarang. Dalam ayatlain Allah SWT berfirman : ” Allah SWT menjanjikan kepada orang-orang yang beiman dan ang mengerjakan kebajikan akan menjadikanmereka berkuasa di muka bumi ini, sebgaimana Ia menjadikan orang-orang sebelum kamu berkuasa ……” (Qs. An Nur:55)
Kedua, Pesan Nabawi : Diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Qubail,Abdullah ibnu ‘Ash berkata: ” Ketika kami duduk bersama RasullahSAW, apabila ia ditanya ” Kota manakah yang akan pertama kalidibuka, Konstantinovel atau Roma? Rasulullah SAW menjawab :Konstanti novel yang akan poertama kali dibuka, kemudian Roma”.Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa a) Para sahabat sebenarnyasudah mengetahui bahwa Konstantinovel dan Roma akan dibuka, tapimereka ingin mengetahui mana yang akan pertama kali dibuka. b) Iniadalah kabar gembira dari Rasulullah SAW yang pasti benar adanya.Sehingga pada tahun 1453 M Konstantinovel dapat dibuka oleh sultanMuhammad Alfaatih. Tinggal satu imperium lagi yaitu Roma. Dansebenarnya seketika itu juga Al Faatih telah menyiapkan pasukanuntuk menyambut dan menyempurnakan Busyra Nabawi (kabar gembira dariNabi SAW) membuka Roma, tapi itu belum tercapai. Ini adalah kehendakAllah SWT agar tersisa amal/tugas bagi kita untuk membukanya. c) Adasebgaian ulama yang berpendapat bahwa arti dari kata “Rumiyyah”disana bukan Roma ibu kota Italia sekarang, tapi yang diingikanadalah makna majazinya yaitu imperium Barat hususnya Amerika. KenapaRomawi disini dikaitkan dengan imperium Barat. Ada beberapa alasan.a) Karena yang menjadi unsur pembentuk peradaban barat salah satunyaadalah Peradaban Romawi.b) Sikap barat dan kebijakan luar negrinya tak beda jauh denganimperium Romawi ketuka itu. Sebagaimana di singgung olehToynbee “Amerika kini membela sesuatu yang dulu dibela oleh Roma.Roma dulu secarakonsisten mendukung kaum kaya untuk melawan kaummiskin disemua komunitas asing yang jatuh dibawah penaklikannya. Dankarena kaum miskin sejau ini, kapanpun dan dimanapun jumlahnya selallebih banyak dari kaum kaya. Kebijakan Roma selalu tidak seimbang danmenimbulkan kepercayaan atas sebgaian besar orang
Ketiga Adanya sinyal-sinyal keruntuhan Peradaban barat. Hal inibisa dilihat dari beberapa hala) Terjadinya krisis moral dan kehampaan spiritual masyarakat Baratyang lebih mementingkan aspek jasmani dan melalaikan aspek rohani.b) Adanya paradok Peradaban Barat dalam menetapkan kebijakan luarnegrinya dengan menggunakan politik double standar, inilah yangmenyebabkan mereka kehilangan legitimasi dari dunia international.c) Barat sudah tidak pantas lagi meminpin umat manusia, karenamereka sudah lalai untuk bersikap persuasif, akomodatif, berlakuadil dan menjadi problem slover__bukan problem mikker__terhadapgejala-gejala global yang menegangkan masyarakat dunia. mereka hanya‘hoby’ mengintervensi masalah dalam-luar negri suatu negara. Kelalaianinilah yang akan menjadikan Barat__meminjam istilah MunawarA.M.__ditimpa ‘hukum sejarah’ (baca: kehancuran). FirmanAllah “katakanlah itu semua karena (kelalaian) dirimu sendiri”.(Qs.3:165). d) Barat terlalu angkuh dan sombong dengan kemajuan yangmereka capai baik dalam bidang ilmu dan teknologi, ekonomi, militerdan sebagainya, sehingga mereka merasa kuat dan tidak ada satupunyang mampu menandingi kekuatan mereka. “Adapun kaum ‘Aad merekamenyombongkan diri di muka bumi tampa (mengindahkan) kebenaran danmereka berkata”Sipakah yang lebun hebat kekuatannya dari kami?”Tidakkah mereka memperhatikan Allah yang menciptakan mereka Dialebih hebat kekuaatan-Nya dari mereka?.” (Qs. 41: 15).
Dari ketiga alasan yang penulis paparkan diatas, kita dapatmengambil statment bahwa kini Peradaban Barat sedang menggelindingketepi jurang kehancuran sebagai akibat dari kelalaian, kesombongandan kerusakan yang mereka lakukan, Munawar A.M. mengibaratkanyaseperti menara gading atau bangunan kokoh yang perlahan tapi pasti,rayap-rayap sedang berkerumun menggerogoti tiang-tiang penyangganya.Begitu juga Bernard Shaw pernah mengatakan “Romawi runtuh, Babylonruntuh, kini tiba giliran Amerika”.
Dibalik itu, arus kebangkitan Islam sudah menemukan momentumnya,kini umat Islam sedang berjalan menuju Alba’tsu fil Islam(kebangkitan Peradaban Islam) yang sudah diduga oleh duniaintelektual akan mengancam existensi Peradaban Barat. Walaupun Baratberusaha semaksimal mungkin untuk membendung arus kebangkitan itudengan berbagai strategi jahatnya seperti politik double standar,mitologi dan deminologi, paradigma kotor, dan propaganda jahat,invasi pemikiran , bahkan dengan invasi militer sekalipun,ketahuilah bahwa Islam is never die, because Islam is the end ofHistory.

PENJAJAHAN DI BIDANG KESEHATAN

Pengantar

Setelah lebih dari 62 tahun merdeka, Indonesia pada hakikatnya masih dalam keadaan terjajah. Tengok saja setumpuk permasalahan yang dihadapi negeri ini. Di bidang perekonomian, negeri ini bergantung pada utang sehingga dikendalikan oleh kepentingan para kapital (dalam hal ini asing). Permasalahan sosial di antaranya adalah pengangguran, kenaikan harga-harga barang pokok yang berakibat pada rendahnya daya beli masyarakat, kemiskinan, bencana alam seperti kasus lumpur lapindo yang tak kunjung selesai, mengingkatnya kriminalitas, dan sebagainya. Di bidang budaya: merebaknya tindak pornografi pornoaksi, free-sex –baik pasangan lawan jenis maupun sesama jenis, serta promosi besar-besaran atas gaya hidup hedonis, memuja kesenangan. Pembangunan yang kian kapitalistik menjauhkan sisi kemanusiaan dengan sikap individualis. Ikatan sosial tercerai-berai, Modal sosial semakin tidak berarti karena solidaritas terbangun atas faktor-faktor materialistik. Di bidang politik, para pemegang amanah pengurusan urusan rakyat tengah mempersilahkan dominasi ‘asing’ terhadap undang-undang yang menentukan nasib ratusan jiwa rakyat. Selain itu, gelagat KKN di tubuh jajaran penguasa sudah bukan rahasia umum lagi, mental pemerintah pun cenderung sebagai pengusaha daripada penguasa. Permasalahan pendidikan pun terus bertambah, dari mulai komersialisasi pendidikan yang mengancam para pelajar putus sekolah, out-put pendidikan yang money-oriented dan kualitasnya rendah. Kemudian beralih pada masalah kesehatan yang tidak kalah peliknya.

Di antara sejumlah persoalan kesehatan adalah gizi buruk dan busung lapar. Kasus gizi buruk melanda di hampir semua wilayah di Indonesia. Di Serang sebanyak 2.711 dari 203.406 bayi menderita gizi buruk (28/04/2007). Di Sumatra Selatan dari total 193.782 anak dan anak balita, sebanyak 2.061 anak balita digolongkan gizi buruk dan 20.278 anak balita kurang gizi (Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel 2007). Kasus gizi buruk dan busung lapar pun terjadi di NTB, NTT, Lampung, Sumatra Barat, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Situbondo, Purwakarta, Rembang bahkan Cianjur (Suara Islam Ed 39). Menurut Pakar Gizi Anak FKUI Saptawati Bardosono, ganguan pertumbuhan linier pada balita di Indonesia cukup tinggi. Tingkat keparahan gangguan pertumbuhan mencapai 20% hingga 48%. Penyebabnya adalah kurang asupan gizi dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Lebih dari itu permasalahan gizi buruk ini bahkan sampai menelan korban jiwa. Di Sumsel dalam 10 hari, terdapat 2 orang balita yang meninggal karena gizi buruk (Maret 2007). Di Banten dalam 4 bulan 8 bayi penderita gizi buruk meninggal (28/04/07). Di Makasar, seorang ibu yang sedang mengandung, dan anaknya tewas setelah 3 hari tidak makan (29/2/08). Realitas ini hanyalah sebagian dari begitu banyaknya kasus yang terjadi.

Selain gizi buruk, Indonesia dihadapkan kepada permasalahan kesehatan lainnya berupa mewabahnya berbagai penyakit. Kasus flu burung, menurut I Nyoman Kumara Rai, Konsultan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia, Indonesia menjadi ancaman nomor satu karena jumlah penderita dan yang meninggal akibat flu burung sangat tinggi dibandingkan negara lain. Dari jumlah pasien di dunia saat ini 258 orang, 152 meninggal dunia (angka kematian 58,91%). Sedangkan Indonesia “menyumbang” 74 kasus, 56 diantaranya meninggal dunia (angka kematian Indonesia 75,67%). Vaksin untuk pencegahan belum ada di dunia saat ini. Sebanyak 223 dari 444 kabupaten/kota di seluruh Indonesia merupakan wilayah endemi (daerah yang pernah terserang dan selalu “menyimpan”) virus flu burung. Angka ini sudah melebihi separuh kabupaten di Indonesia.

Sementara itu dalam rapat masalah-masalah kesehatan 2008, penyakit-penyakit utama yang dibahas adalah AIDS, TB, Malaria dan DBD. Di Indonesia, penderita HIV/AIDS tercatat sejumlah 9689 jiwa sampai Juni 2007. DBD pun mewabah Hingga akhir April 2007, 9 dari 13 kabupaten dan kota di Kalsel terjangkit DBD sehingga statusnya dinyatakan sebagai KLB. Kasubdinas Pengawas Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kalsel, Sukamto, mengatakan selama 4 bulan pertama 2007 tercatat 1163 warga menderita DBD. 12 orang diantaranya meninggal dunia. Di samping wabah penyakit, harga obat-obatan yang mahal pun menjadi salah satu permasalahan kesehatan di negeri ini. Siapapun yang berobat ke dokter pada hari ini akan mendapati resep yang diberikan dokter sangat mahal. Dalam keadaan demikian hanya dua pilihan: pembelian obat ditunda atau menebus separuhnya. (Ichsan, 2008). Selain itu, biaya rumah sakit pun sangat tinggi, lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pun tidak menjamin kualitas yang memadai. Kesehatan sudah seperti komoditas yang diperdagangkan. Tentu saja jaminan kesehatan yang seharusnya diberikan pemerintah terhadap rakyatnya hanyalah ilusi. Lalu bagaimana sebenarnya realitas kesehatan yang terjadi saat ini, apa yang menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan ini, serta bagaimana sebenarnya pengurusan perkara kesehatan ini ditinjau dari kaca mata Islam dengan kesempurnaan aturannya.

Gambaran Fakta Kesehatan yang Terjadi Saat ini

Tidak dapat dipungkiri bahwa di bidang kesehatan Indonesia masih terjajah oleh para kapital yang hanya berorientasi pada keuntungan daripada pada pelayanan jasa kesehatan. Hal ini dikarenakan: pertama Monopoli obat oleh perusahan-perusahaan besar dunia ini ikut melibatkan kantor perdagangan AS (WTO) untuk mementukan peraturannya, apakah mempertahankan semua biaya paten obat dan praktek monopoli perusahaan besar, atau apakah negara-negara yang memiliki tingkat penyakit yang tinggi memperoleh haknya untuk mendapatkan obat dengan harga yang terjangkau (Saleh 2003). Tentu kepentingan para kapital lah yang menang. Mike Moore, direktur jenderal WTO menyatakan: “Industri telah mengeluarkan biaya rata-rata pengembangan obat baru sebesar US $ 500 juta. Apakah itu bukan untuk sistem hak paten sebagai balasan bagi perusahaan yang menanggung resiko jutaan dolar dalam risetnya, sehingga tanpa ini obat anti Aids tidak akan penah ada”. Keberpihakan WTO terhadap hak paten bagi perusahaan-perusahaan obat tersebut adalah wajar, karena perusahaan farmasi telah memberikan sumbangan kampanye jutaan dollar untuk penegakkan sistem politik AS. Sementara itu hal yang ingin diperoleh perusahaan-perusahaan farmasi Barat adalah pencarian profit yang maksimum. Bahkan ketika pun mereka memberikan bantuan bak dermawan dengan memberikan potongan harga produknya, hal itu hanyalah sekedar menyamarkan tindakan untuk melindungi deviden dan menjaga dari pesaing generik yang memangkas pasar mereka (saleh 2003). Industrialisasi kesehatan pun diperankan oleh industri obat-obatan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, standarisasi obat dibuat tidak lain untuk melindungi hak paten perusahaan-perusahaan obat dan melanggengkan monopoli obat. Farmasi mempunyai peran penting dalam menjamin dan memperbaiki kesehatan masyarakat, menghasilkan obat untuk mengatasi berbagai penyakit, minimasi risiko kesehatan dan menjamin pelayanan kesehatan yang berkesinambungan (sustainable) bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang (Sampurno 2007). Akan tetapi dalam paradigma kapitalisme, bidang farmasi diindustrialisasi, melihat begitu besarnya peluang pasar dari penyakit-penyakit yang semakin hari semakin berkembang. Selain itu, adanya globalisasi dalam bidang farmasi telah membuka peluan bagi dominasi asing untuk menjual obat-obatan produksinya.

Kedua adalah Komersialisasi dokter yang hubungannya dengan perusahaan obat Dampak dari realitas ini adalah Obat dan pelayanan kesehatan mahal selain itu dokter lebih mengedepankan menjual merk obatnya. Akibat dari monopoli obat dan hak paten, serta kolusi dokter dengan pengusaha obat adalah tingginya harga obat. Dalam pandangan manusia saat ini, obat adalah salah satu cara untuk menyembuhkan penyakit. Karenanya mau tidak mau, obat yang diresepkan dokter mesti ditebus. Sementara penyakit tidak pandang bulu, dapat menimpa siapa saja. Kondisi obat yang mahal semakin mencekik leher rakyat. Adapun obat generik dengan harga murah yang diupayakan pemerintah agar terjangkau pun masih menyisakan berbagai masalah. Ini karena perusahaan farmasi tidak akan berproduksi bila keuntungan sangat kecil. Selain itu, harganya harus disesuaikan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena 95% bahan baku obat generik diimpor. Pemerintah pun mesti berkoar-koar menghimbau para dokter agar memberikan resep obat generik pada pasiennya. Di samping itu, jumlah obat generik pun terbatas dan distribusinya kurang merata. Yang lebih disayangkan lagi adalah adanya obat-obat generik yang sudah kadaluarsa beredar di masyarakat. Ini memperlihatkan ketidak-seriusan dalam melayani pasien. Dengan kata lain, orang yang mampu membayar murah hanya mendapatkan fasilitas seadanya. Pelayanan kesehatan disamakan dengan perdaganan yang mengedepankan untung rugi dan meniadakan sisi kemanusiaan. Sudah dapat dipastikan, orang miskin dilarang sakit. Karena pelayanan kesehatan harus ditukar dengan lembaran-lembaran rupiah yang banyak.

Kembali lagi kepada hak paten atas lisensi obat, hal ini juga mengakibatkan ketergantungan dunia pada perusahaan-perusahaan farmasi dunia. Tengok saja apa yang terjadi di Afrika Selatan. Negara yang sedang menderita krisis Aids akut dengan 10% penduduknya positif terjangkit HIV (4 juta orang) dan ini merupakan yang terbesar di dunia. Penyakit itu secara besar-besaran membunuh penduduk Afrika Selatan dengan jumlah penderita yang terus bertambah. Dalam keadaan putus asa untuk menahan pertumbuhan dan penyebaran penyakit tersebut pemerintah, melalui undang-undang tahun 1997, mengijinkan impor obata-obatan generik dengan harga murah agar terlepas dari cengkraman monopoli para pemegang hak paten perusahaan-perusahaan farmasi. Akan tetapi WTO mengajukan masalah ini ke pengadilan Pretoria untuk menentang undang-undang yang menginjinkan pemerintah mengimpor obat generik ataupun obat tiruan. Di bawah ketentuan khusus undang-undang perdagangan “301″, Amerika Serikat secara sepihak dapat menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap negara-negara yang berbeda dengan keinginannya dan mengingkari keabsahan hak paten obat. Di satu sisi pemerintah Afrika Selatan dan organisasi Aids menganggap masalah hak paten adalah hukuman mati terhadap dunia miskin yang menimpa sejak hak paten telah menempatkan melebihi jangkauan mereka. Di sisi lain perusahaan-perusahaan farmasi dan WTO menganggapnya sebagai perangsang/pendorong dan perlindungan atas investasi keuangan.

Kekejaman ini pun berlaku tidak hanya pada obat, tetapi juga pada vaksin. WHO sebuah organisasi kesehatan dunia telah lama memanfaatkan penderitaan warga dunia dan menjadi bagian dari kapitalisme dunia. WHO ternyata menjual data virus-virus yang sedang mewabah ke perusahaan-perusahaan dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian mempatenkannya. Sementara negara tempat berkembangnya virus sama sekali tidak boleh mendapatkan informasi yang diminta. Oleh perusahaan-perusahaan besar ini, virus dibuat vaksinnya kemudian dijual ke negeri-negeri dimana virus tersebut berasal. Sikap licik ini ditentang habis oleh Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari. Melalui bukunya, beliau memaparkan bagaimana kezaliman hegemoni AS di bidang kesehatan dunia.

Dominasi kapitalisme di bidang kesehatan

Paradigma kapitalisme telah meracuni dunia. Dalam paradigma kapitalistik yang sekular, segala sesuatu dipandang dari apakah hal tersebut membawa keuntungan (laba) atau tidak. Maka apapun bentuknya jika dapat menghasilkan keuntungan materi yang banyak, hal tersebut akan dijadikan komoditas. Dalam hal ini jasa pelayanan kesehatan pun dianggap menguntungkan. Dalam pandangan kapitalisme, pelayanan kesehatan dianggap komoditas –yang besar dengan pangsa pasar yang luas– ketimbang tanggung jawab sosial. Hubungan pasien dengan dokter adalah hubungan konsumen dengan produsen. Sebesar apa seorang konsumen mampu membayar jasa kesehatan ini, sebesar itulah pelayanan kesehatan yang ia peroleh. Pupuslah pandangan bahwa pelayanan kesehatan adalah tanggung jawab sosial. Menjadikan kesehatan sebagai komoditas sektor jasa, membuat para kapital (pemilik modal) melakukan berbagai cara agar modal yang investasikannya bisa berlipat-lipat. Karenanya berbagai ‘inovasi’(baca: melakukan segala cara) pun dilakukan. Di negara-negara Kapitalis, kepentingan komersial menjadi faktor memotivasi pengembangan obat baru. Karenanya, pengobatan medis baru apapun dilihat sebagai kekayaan intelektual untuk keuntungan perusahaan-perusahaan farmasi meskipun hal itu menyebabkan penderitaan jutaan orang. Dengan kata lain, sasaran atau tujuan perusahaan-perusahaan tersebut adalah mencari laba bukan untuk menyelamatkan kehidupan (Saleh 2003).

Penyakit-penyakit yang diderita masyarakat dunia malah dijadikan ajang bisnis oleh para kapitalis. Mereka tidak segan-segan menginvestasikan modal mereka di dunia kesehatan yang menjanjikan ini. Dr.Sue Meyer (dalam Saleh 2003) dari kelompok riset Genewatch UK mengatakan, “ilmu pengetahuan dikendalikan oleh kepentingan pribadi, mengarahkan maksimalisasi nilai saham mereka, dibandingkan dengan masalah kesehatan masyarakat.” Sekalipun mereka harus membayar tinggi informasi dari WHO mengenai virus yang sedang mewabah di dunia, itu mereka lakukan. Sekalipun mereka harus menghabiskan dana yang besar untuk penemuan obat-obatan pun mereka lakukan. Karena perusahaan-perusahaan besar dunia (MNC:Multi-natianal Coorporation) tahu pasti profit yang akan mereka peroleh melalui komoditas jasa kesehatan. Berbagai upaya MNC di bidang kesehatan ini tidak lain sebagai strategi MNC meraup keuntungan besar.

Para kapital dengan modalnya yang besar telah menciptakan ketergantungan dunia ketiga terhadapnya. Monopoli obat dan hak paten serta adanya regulasi dunia yang melindunginya dari persaingan menjadikan para kapitalis ini lah sebagai para pemain utama pengobatan dunia. Lihat saja bagaimana dunia ketiga mesti mengemis-ngemis obat dan vaksin kepada mereka; bagaimana negeri-negeri yang penduduknya yang terserang penyakit dan terancam kematian sampai ‘berlutut’ agar diberikan obat dengan harga murah. Tapi kekejaman kapitalis tetaplah bengis. Melalui hak paten mereka jadikan alat sebagai monopoli perdagangan obat, sehingga menyebabkan negara dunia ketiga tergantung pada mereka yang memiliki hak paten untuk mendapatkan obat. Kecenderungan mementingkan diri sendiri dan kolonialis negara-negara Kapitalis sudah tertanam berabad-abad lamanya. Pandangan hidup sekuler, yang dipeluk Barat, membuat pengejaran kesenangan dan kepentingan individu menjadi tujuan hidup. Ini dibuktikan dengan pencarian tidak ada berakhir untuk keuntungan materi dengan mengabaikan mudarat yang disebabkannya terhadap orang lain.

Negara-negara dunia ketiga termasuk indonesia hanya dijadikan permainan oleh para penjahat kapitalisme. Kekuatan modal telah membius siapa saja yang tergiur oleh nikmat sesaat yang diiming-imingi para kapitalis. Lihat saja bagaimana pemerintah negeri ini dalam menentukan kebijakan-kebijakannya. Bagaimana mereka melegalisasi kebijakan yang pro-liberal daripada berpihak pada kemaslahatan umat. Di bidang kesehatan, sekuat apapun idealisme pemerintah memenuhi pelayanan kesehatan rakyat, tetapi paradigma kapitalisme lebih dominan dan cenderung memupus idealisme yang ada. Pemecahan masalah kesehatan tidak diselesaikan dengan solusi tepat yang sesuai fitrah manusia. Solusi tetap dari bagaimana agar memeroleh keuntungan. Pro kontra dalam menentukan kebijakan pun pasti dimenangkan oleh pihak yang berkepentingan (para kapitalis). Ini bisa dilihat dari bagaimana pemerintah mengajukan liberalisasi kepada WTO atas sektor-sektor seperti pendidikan, kepemilikan perbankan, lawyer asing yang boleh hadir di Indonesia, konstruksi, kesehatan dan rumah sakit, serta imigrasi. Kecenderungan pemerintah jelas pro liberal. Sektor-sektor yang menjadi kebutuhan rakyat seperti pendidikan dan kesehatan mereka liberalisasikan (menjadi komoditas). Elit komprador dan cendekiawan serta LSM kesehatan turut menyumbang komersialisasi dan penjajahan di bidang kesehatan ini. Mereka pun ikut tergiur oleh keuntungan yang ditawarkan para kapitalis. Dokter-dokter lebih mudah terbujuk kepentingan perusahaan obat dibanding memberikan pelayanan yang dibutuhkan pasien. Para marketing perusahaan obat lebih berorientasi pada target penjulan yang tinggi sehingga berbagai cara pun dilakukan agar obatnya laku, sekalipun harus ‘mengorbankan’ kebutuhan konsumen. Para aktivis LSM kesehatan pun terlena dengan bantuan dana yang diberikan lembaga-lembaga asing kapitalis untuk memuluskan jalan kepentingan para kapitalis. Sekalipun ikatan ‘kontrak’ LSM kesehatan dengan lembaga asing hanya berupa peneltian. Informasi penelitian ini dijadikan data para kapitalis untuk menginvestasikan modal mereka dalam bisnis kesehatan ini.

Solusi Islam

Islam sebagai sebuah sistem peraturan yang lengkap, melihat permasalahan kesehatan sebaga kebutuhan seluruh manusia yang menjadi tanggung jawab negara. Namun tidak lantas hanya negara yang berperan aktif merealisasikan kesehatan seluruh warganya. Akan tetapi negara bersama-sama dengan warganya saling bahu membahu untuk merealisasikan kebijakan Islam di bidang kesehatan. Bahwa ‘kebersihan sebagian dari iman’ bukan sekedar slogan. Ini dibuktikan dengan bagaimana masyarakat dengan arahan pemerintah melakukan aktivitas: (1) Preventif terhadap munculnya penyakit. Diantaranya adalah menciptakan lingkungan sehat dan bersih. Dorongan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan bukan untuk memperoleh laba, akan tetapi dorongan keimanan untuk memenuhi perintah Allah SWT. Motivasi mengejar pahala dan ridlo Ilahi adalah yang utama. Ketika kaum muslimin menciptakan inovasi baru dalam sistem satitasi air, tidak lain hanya untuk memenuhi seruan Allah dalam hal berwudlu. Penemuan sanitasi air ini berkembang untuk pengadaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

(2) Penyediaan berbagai sarana kesehatan oleh negara merupakan kebijakan Islam dalam kesehatan. Negara dalam pandangan Islam wajib menyediakan rumah sakit dan obat-obatan secara gratis. Kesehatan dipandang sebagai salah satu kebutuhan pokok warga negara yang mesti dipenuhi pemerintah. Motivasi tercapainya keridloan Allah pula-lah yang mendorong negara Islam mengupayakan terpenihunya pelayanan kesehatan bagi warga negaranya serta tersedianya obat. Ketika Rasulullah memberitahukan kepada kita bahwa: “Tidak ada penyakit yang diciptakan Allah kecuali Allah telah menciptakan obatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah). Obat yang telah ditemukan tidak pernah mempedulikan hak milik individu atau perusahaan dagang tertentu tetapi itu adalah kemurahan dari Allah SWT yang disediakan oleh negara untuk rumah sakit dan klinik kesehatan, dan banyak sekolah farmasi dan toko obat dibuka untuk memelihara urusan rakyat. Riset medis dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi dan dibuang jauh dari sikap egois sebagaimana yang dapat kita saksikan hari ini. Mujtahid terkemuka Imam Syafi’I mengatakan tentang obat: “Setelah ilmu pengetahuan yang membedakan mana yang halal dan yang haram, saya tidak mengetahui ada ilmu pengetahuan manapun yang lebih mulia kecuali ilmu pengobatan.” Dalam islam pelayanan kesehatan menjadi tanggung jawab negara, maka pelayanan kesehatan masyarakat tidak bersifat komersil. Seluruh biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut ditanggung oleh Baitul Maal.

Realisasi dari kebijakan-kebijakan Islam di dunia kesehatan dapat dilihat dari fakta keemasan Khalifah Islamiyan di bidang kesehatan. Daulah Khilafah Islam menyediakan dokter di tengah masyarakat, menanggulangi problem kesehatan masyarakat, dan membangun sarana atau balai-balai kesehatan. Negaralah yang bertanggung jawab untuk mewujudkan semua itu.

Fakta dunia kesehatan dalam Daulah Islamiyah telah menjalankan fungsi ini dengan sebaik-baiknya. Negara menjamin kesehatan masyarakat, mengatasi dan mengobati orang-orang sakit, serta mendirikan tempat-tempat pengobatan. Rasulullah saw. pernah membangun suatu tempat pengobatan untuk orang-orang sakit dan membiayainya dengan harta benda Baitul Maal. Dalam buku Târîkh al-Islâm as-Siyâsî diceritakan bahwa Sayidina Umar r.a. telah memberikan sesuatu dari Baitul Mal untuk membantu kaum yang terserang penyakit lepra di jalan menuju Syam ketika melewati daerah tersebut. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh para khalifah dan para pemimpin wilayah. Bahkan, Khalifah Walid ibn ‘Abdul Malik telah memberikan bantuan secara khusus kepada orang-orang yang terserang penyakit lepra. Dalam bidang pelayanan kesehatan ini, Bani Ibn Thulun di Mesir memiliki masjid yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk mencuci tangan, lemari tempat menyimpan minuman dan obat-obatan, serta dilengkapi dengan ahli pengobatan (dokter) untuk memberikan pengobatan gratis kepada orang-orang sakit.

(3) Sarana kesehatan memadai dan dokter yang profesional. RS pertama dibangun atas permintaan Khalifah Al-Walid (705 M - 715 M) - seorang khalifah dari Dinasti Umayyah. Tempat perawatan yang dikenal dengan nama `Bimaristan’ itu disediakan tak hanya pagi penderita leprosoria tapi juga bagi penderita lepra yang saat itu merajalela. Untuk merawat para pasien itu, khalifah menggaji tenaga perawat dan dokter. RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun pada era kekuasaan Khalifah Harun Al-Rasyid (786 M - 809 M). Setelah berdirinya RS Baghdad, di metropolis intelektual itu mulai bermunculan RS lainnya. Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu merupakan ide dari Al-Razi, dokter Muslim terkemuka. Dalam catatan perjalanannya, seorang sejarawan bernama Djubair sempat mengunjungi Baghdad pada 1184 M. Ia melukiskan, RS yang ada di Baghdad seperti sebuah `istana yang megah’. Airnya dipasok dari Tigris dan semua perlengkapannya mirip istana raja. Menurut Dr Hossam Arafa dalam tulisannya berjudul Hospital in Islamic History pada akhir abad ke-13, RS sudah tersebar di seantero Jazirah Arabia.

Akhirnya hanya Islam yang dapat menyelesaikan penyakit sekularisme. Dan hanya melalui kembalinya Khilafah dan penerapan syari’at secara komprehensif yang dapat merealisasikan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat. Telah nyata betapa bobroknya sistem kapitalisme yang mengcengram dunia termasuk di bidang kesehatan. Sudah saatnya kita campakan ideologi kapitalisme yang menyengsarakan dan menegakkan ideologi Islam melalui intitusi Khilafah.

Walloohu a’lam…….

DAFTAR PUSTAKA

DR.Sampurno.”Membangun Daya Saing Farmasi Indonesia Menghadapi Harmonisasi Regulasi Farmasi Asean”.akses : 2007 dikutip dari : http://strategic-manage.com/?p=6

Fadilah, Siti Supari. “saatnya dunia berubah tangan tuhan dibalik virus flu burung”. PT. Sulaksana Watinsa Indonesia. Jakarta. 2007

Usman, muhammad dan yahya abdurrahman. “kebijakan khilafah di bidang kesehatan”. Al wa’ie no.93 tahun VIII. 2008

Saleh.”Hak Paten Obat: Untuk Kesehatan Masyarakat atau Kekayaan Korporat”. Akses : 2008. Dikutip dari : http://jurnal-ekonomi.org/2003/11/03/hak-paten-obat-untuk-kesehatan-masyarakat-atau-kekayaan-korporat/

Wawacara bersama H. azwir Ibnu Aziz : “Asing Menguasai Industri Farmasi”. Al wa’ie no.93 tahun VIII. 2008.

Artikel